Friday, November 11, 2011

Pertimbangan Sebelum Membeli Kamera SLR

Sejak menekuni hobi fotografi, selalu ada saja teman-teman pemula yang meminta saran bagaimana memilih kamera SLR yang sesuai dan bagus. Berikut ini artikel yang saya copy paste (lupa darimana) tips sebelum membeli kamera SLR.

Memilih kamera SLR digital yang tepat adalah urusan pelik tersendiri dengan banjirnya merk dan tipe kamera di pasar. Saat ini (Jan 2011) paling tidak ada 10 perusahaan pembuat kamera (Canon, Fujifilm, Leica, Nikon, Olympus, Panasonic, Pentax, Samsung, Sigma, dan Sony) dan total sekitar 60 jenis SLR.

Kami akan coba mengurai beberapa faktor non-teknis yang patut di pertimbangkan sebelum menentukan pilihan kamera SLR yang akan dibeli:

Jika ayah saya memberi warisan lensa
Ya, jika ayah anda memberi warisan lensa dari era film, ini bisa mengubah keputusan. Beberapa kamera SLR digital saat ini tetap kompatibel dengan lensa pada era kamera autofokus film. SLR digital merek Canon, Nikon, Pentax dan Minolta (sekarang Sony) akan kompatibel dengan lensa yang diperuntukkan untuk kamera SLR autofokus mereka di jaman film. Bawalah lensa tua tadi ke toko kamera untuk memastikan kompabilitas dengan kamera yang akan dibeli.

Kamera apakah yang sering dipakai teman – teman?
Kamera yang sering dipakai teman – teman juga bisa mempengaruhi keputusan kita. Jika teman-teman banyak memakai Canon, misalnya, belilah Canon. Jika mereka memakai Nikon, belilah Nikon. Ini akan memudahkan kita dalam kasus “meminjam lensa gratis.” Sebuah trik dasar yang layak dicoba, namun lebih baik jika istilah-nya diganti menjadi “saling bertukar lensa.” Jadi kita tidak modal dengkul saja.

Kemudahan dalam servis dan purna jual
Usahakan sebisa mungkin anda membeli kamera dari toko lokal di kota anda, kalaupun tidak usahakan membeli dari kota terdekat. Saat kamera butuh diservis atau di bersihkan sensornya misalnya, pelayanan akan lebih cepat dibandingkan harus mengirimkannya via paket dsb. Di samping itu, kita mungkin diperbolehkan meminjam gratis kamera cadangan yang disediakan toko selama kamera diservis (karena servis kamera biasanya butuh waktu yang cukup lama). Hal ini kadang lebih penting dibanding selisih harga yang tidak terlalu banyak. Juga layak dipertimbangkan adalah seberapa baik reputasi sebuah produsen kamera melayani keluhan pelanggannya.

Berapa anggaran kita
Anggaran merupakan faktor penting dalam menentukan kamera yang akan dibeli.  Berdamai-lah dengan uang, membangun sistem SLR tidak hanya membutuhkan kamera, namun juga lensa dan beberapa aksesori penting lainnya (software pengolah foto, komputer, tripod, filter, flash, tas kamera, batere cadangan dll). Kalau dikantong ada Rp.20 Juta, tidak bijak kalau semuanya dihabiskan untuk kamera saja. Membangun sistem SLR adalah jalan panjang yang bisa menguras isi kantong jika tidak disiplin anggaran. Ada saran dari fotografer senior bahwa memiliki lensa yang berkualitas membuat foto kita lebih bagus dibanding jika memiliki kamera bagus namun lensanya jelek.

Seberapa serius anda
Penting ditanyakan adalah seberapa serius anda ingin terjun ke dunia fotografi. Jika sejak awal anda ingin terjun serius ke dalam fotografi, jangan jauh – jauh dari Nikon atau Canon. Kedua produsen ini adalah penguasa pasar kamera SLR. Delapan dari 10 kamera SLR memiliki logo Canon atau Nikon di body-nya (masing-masing sekitar 40%). kenapa mereka bisa sebegitu dominan? jawabannya adalah karena mereka juga serius. Fotografer pro pada waktunya akan memerlukan lensa atau aksesori khusus untuk memenuhi kebutuhan kerjanya. Flash khusus macro atau lensa 600mm dengan stabilizer misalnya, Nikon dan Canon menyediakan beragam aksesori yang bisa memenuhi kebutuhan kita, dan lebih penting lagi stok-nya tersedia di kota kita (atau paling tidak di Jakarta). Berbeda kalau kita tidak punya tuntutan “segila” itu, saya rasa salah satu dari 9 merek diatas akan mampu mencukupi kebutuhan kita.

Jadi Canon, Nikon atau merk lain? ah…jangan mulai deh!

Thursday, November 10, 2011

My First Camera

Ini cerita tentang waktu pertama beli kamera tahun 2008 yg lalu. Baru diposting sekarang krn baru mulai blogging disini ... hehehe ...



Akhirnya digital camera idaman terbeli juga …. dan aku merasa ini hadiah dari Tuhan melalui rentetan peristiwa sejak kamera ini mau dibeli sampai hari ini.

Kejadian pertama, waktu pertama beli itu …. pulang ibadah hari Minggu diajak teman makan di Pasar Baru. Perjalanan dari gereja sampai rumah makan favorit di sana itu melewati took-toko kamera dan sekilas pandang ada promo kamera murah nih. Boleh lah mampir sebentar, lihat-lihat dulu piker aku. Ternyata ada yang cukup menarik hati, tapi belum mampu menarik dompet keluar dari saku … hahaha, soalnya harganya kok masih lumayan juga meskipun jauh lebih murah daripada merek-merek lain yang kemampuannya sejenis. Sampai pulang ke rumah pun, belum ada keinginan kuat untuk membeli … lha memikirkan aja kagak karena udah lupa dengan urusan-urusan lain.

Aneh, besok pagi-pagi begitu bangun di hari Senin aku merasakan dorongan hati yang kuat untuk beli kamera yang kemarin itu. Aku coba merangkai-rangkai antara kebutuhan dengan keinginan. Hmm … memang ingin dan butuh juga sih …. Keinginan kan udah lama banget (lihat aja posting aku dulu, 18 Feb 2005 … kepengen kamera digital). Kebutuhan? Yah beberapa bulan terakhir ini entah kenapa aku kebagian tugas jadi fotografer melulu di seminar-seminar, event, acara keluarga, dll … aku heran banget, ga punya kamera dan ga punya ketrampilan fotografi kok ditunjuk jadi fotografer. Terus lagi, besok-besok itu masih ada banyak tugas jadi panitia bagian fotografi / dokumentasi … wah, ya udah deh mungkin emang udah waktunya beli. Aku sih doa aja, semoga ini memang Tuhan yang suruh beli.

Kejadian kedua, enam hari setelah kamera itu dibeli aku belum punya camera bag yang sesuai. Hari itu aku lihat-lihat di sebuah toko alat-alat kantor yang jual macam-macam gadget dan perlengkapannya; ada sebuah tas kamera yang cakeeep banget. Tapi harganya kok mahal banget ya, hanya sebuah tas kamera sampai 250 ribu? Nanti aja deh, piker aku. Sayang juga duit segitu cuma buat sebuah tas kamera. Dan besok paginya, lagi-lagi pulang ibadah Minggu diajak teman ke toko kamera di Pasar Baru. Kali ini teman saya memang niat beli tas buat handycam yang baru. Saya ikut aja, sekalian iseng mau liat kalo camera bag disitu berapa harganya.

Lha, ternyata ada dua hal yang mengejutkan saya setibanya di toko itu. Pertama, harga kamera yang saya beli Senin kemarin, hari itu udah berubah naik 155 ribu perak. Busyet! Untung aku udah beli minggu lalu. Dan yang kedua, harga tas kamera disana malah murah banget, cuma 40 ribu. Wah wah …. untung kemaren gak napsu beli di toko, beda jauh banget???

Hari-hari selanjutnya, saya mulai tergila-gila dengan dunia fotografi. Apa aja dijepret …. Yah, namanya juga kamera baru dan lagi dengan digital kan ga perlu mikir media film yang mahal itu. Tinggal transfer ke computer, retouch dikit-dikit dan whalaa … makin penuh lah hard disk dengan foto-foto segala macam tema. Kamera itu juga dipakai kemana-mana, mulai di event kegiatan di gereja, pelayanan, pekerjaan sampai seminar-seminar, jalan-jalan, keluarga, apaaaa aja yang kira-kira bisa aku jepret ya aku jepret …. hehehe …
Beberapa teman mulai melirik, minta kalo nanti mereka perlu tukang foto apa aku bersedia? Ya tentu saja bersedia, lha kalo kerjaanya sesuai hobby kan asyik?

Kejadian terakhir, kemarin siang ada teman telpon. Dia bilang lagi perlu fotografer untuk acara natal bulan Desember besok. Aku agak sungkan, karena aku merasa masih pemula. Tapi dengan support dari teman dan saudara yang lain, akhirnya aku bilang oke deh … hitung-hitung tambah pengalaman sekalian dapat rejeki sedikit. Aku bilang sama dia, ga tau mau pasang harga berapa …. Seikhlas kamu ajalah. Hahaha.

Jadi dari kronologi kepemilikan kamera digital ini, aku melihat Tuhan memang baaiiiiik banget. Apa aja aku kepengen pasti dikasih. Tapi waktuNya selalu beda dengan waktu kita. Dan waktu-Nya selalu yang terbaik. Dulu mungkin kalo aku paksakan beli, ya cuma kebeli pocket digital camera. Sekarang, aku malah bisa beli yang professional plus sarana-sarana pendukungnya? Makasih ya Tuhanku, Engkau memang selalu luar biasa dan menakjubkan!