Baca : Efesus 2:1-10
Karena begitu besar kasih
Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan anakNya yang tunggal upaya
setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang
kekal. (Yoh 3:16)
"Engkau layak untuk semua ini ...." demikian kata-kata terakhir Kapten John pada Pratu Ryan. Dan bertahun-tahun Ryan memikirkan makna pesan terakhir sang kapten.
Pratu James Ryan adalah anak bungsu dari 4
bersaudara, semuanya pria. Sebagaimana peraturan wajib militer yang berlaku
pada pasa Perang Dunia II, Amerika mengirimkan semua pemuda-pemudanya yang
sehat secara fisik untuk maju ke garis depan melawan pasukan Jepang dan Jerman
di berbagai bagian dunia. Ryan beserta kakak-kakaknya pun berangkat untuk
membela negaranya bertempur melawan musuh, namun Ryan dan kakak-kakaknya tidak
berada dalam kelompok pasukan yang sama. Mereka masing-masing bertempur dengan
batalyon dan medan yang berbeda namun tetap membela kelompok sekutu.
Menjelang akhir masa perang tersebut, ketika
pasukan Amerika telah mencapai wilayah Eropa, datanglah sebuah berita di markas
besar pasukan Amerika bahwa ternyata ketiga kakak Ryan telah gugur dan seorang
pemimpin di markas menemukan nama si bungsu pratu Ryan adalah yang tersisa dari
keempat bersaudara tersebut dan masih terlibat pertempuran sengit di garis
depan. Mengetahui bahwa jika si bungsu Ryan gugur maka akan habis seluruh
keturunan keluarga Ryan, jenderal tersebut segera mengirim sekelompok kecil
pasukan untuk membawa Ryan bungsu pulang, tidak lagi terlibat langsung
bertempur di garis depan. Misinya jelas agar Ryan yang bungsu ini tidak
ikut-ikutan gugur menyusul kakak-kakaknya.
Kelompok pasukan kecil pimpinan Kapten John dikirim untuk mencari
dan membawa Ryan kembali ke Amerika gugur pula satu per satu dalam berbagai
konflik pertempuran melawan Jerman. Namun misi mereka berhasil. Ryan dapat
ditemukan, diselamatkan dan pulang kembali. Amerika rela mengorbankan sekelompok
kecil pasukan elitnya hanya untuk membawa menyelamatkan pratu James Ryan agar
hidup dan melanjutkan keturunannya. Bayangkan, banyaknya pengorbanan yang
dilakukan negaranya dengan gugurnya pasukan penyelamat itu, mulai dari kapten,
sersan, kopral dan prajurit-prajurit lain, hanya untuk seorang pratu (pratu
adalah pangkat terendah dalam kemiliteran,
setara tamtama).
Film Saving
Private Ryan, adalah sebuah film perang yang sarat dengan kekerasan namun
mempunyai makna yang sangat alkitabiah. Ryan adalah gambaran kita manusia, dengan para martir yang gugur sebagai kelompok kecil yang berusaha menyelamatkan manusia dari kematian. Sebagaimana Allah juga rela mengirimkan
bahkan anak tunggal-Nya, hanya supaya kita manusia dapat diselamatkan,
mempunyai hidup yang kekal. Sungguh sebuah pengorbanan yang sangat besar telah
Allah berikan kepada manusia karena cintaNya.
Di akhir cerita film digambarkan bagaimana Ryan
bungsu telah lanjut usia, dan di dampingi anak cucunya memberikan penghormatan
di makam pahlawan tempat kelompok pasukan yang telah dikirim untuk menjemputnya
dikuburkan. Ryan menghormati dan menghargai pengorbanan mereka. Sudah
seharusnya kita pun bersyukur dan menghormati pengorbanan Kristus di salib. Selamat Paskah!
April 14, 2007
No comments:
Post a Comment